Jimmy adalah murid kelas 3 SD. Ia sangat malas dan selalu tertinggal pada pelajaran mengarang, matematika, dan meyanyi. Ia terlambat dan tertinggal, tertinggal dan terlambat! Namun ia tak pernah merasa menyesal.
Pada suatu hari, Jimmy kembali terlambat ke sekolah. Dia berlari ke tempat penitipan pakaian untuk mengambil seragamnya. Jimmy segera memakai seragam yang diberikan oleh Bibi Zahra. Namun, setalah Jimmy keluar dari ruang ganti, Bibi Zahra terkajut karana bukan Jimmy yang ia lihat. Melainkan seorang kakek tua yang keriput dengan janggut abu-abu. Ketika Jimmy melihat sendiri dirinya di cermin, ia sangat ketakutan, lalu berlari pulang memanggil ibunya. Tetapi ternyata ibunya tidak mengenalinya lagi. Jimmy yang malang akhirnya berjalan tanpa tujuan.
“Aku telah menjadi orang tua yang malang. Tanpa ibu, tanpa anak-anak, tanpa teman, dan aku tidak berhasil belajar apa pun. Kakek-kakek zaman sekarang ada yang menjadi dokter, insinyur, guru!Sedangkan aku hanya menjadi murid kelas tiga!” Begitulah Jimmy berjalan sambil berpikir. Tanpa sadar ia masuk ke dalam hutan. Dia terus berjalan dan hari semakin gelap.
Tiba-tiba Jimmy melihat sebuah rumah kecil putih. Tidak ada seorangpun di dalamnya. Hanya ada satu meja dan empat kursi. Jam-jam bandul tergantung di tembok. Dan di sudut ruangan ada tumpukan rumput-rumput kering. Jimmy berjalan kearah tumpukan itu, menagis tersedu-sedu, dan akhirnya tertidur.
Ketika Jimmy terbangun, ruangan itu tampak terang. Dan disekeliling meja duduk dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Alat-alat hitung yang terlatak di depan mereka. Anak-anak itu manghitung dan berkomat-kamit. Sedang apa anak-anak itu? Jimmy terdiam dan menguping pembicaraan anak-anak itu. Dan ia pun mulai ketakutan.
Ternyata mereka bukan anak-anak! Melainkan penyihir jahat! Waktu yang telah dibuang olah anak-anak dikumpulkan para penyihir itu untuk diri mereka. Dan para penyihir menjadi anak-anak kecil, sedangkan anak-anak kecil menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek. Begitulah! Para penyihir telah berhasil mengubah Jimmy, seoarang anak laki-laki lain, dan dua anak perempuan lain menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek.
Goldy, peminpin penyihir, berbicara pelan-pelan, “Teman-teman penyihir! Empat anak yang hari ini telah kita ubah menjadi kakek dan nenek, masih dapat menjadi muda kembali. Jika keempat anak itu besok datang bersama-sama ke sini jam 12 malam, dan memutar mundur jarum jam-jam bandul sebanyak 77 kali, maka seketika itu mereka akan kambali menjadi anak-anak, sedangkan kita akan mati.”
Goldy meminta teman-temannya untuk berhati-hati. Jimmy lalu menunggu sampai para penyihir itu keluar dari rumah. Lalu tanpa membuang waktu ia pun berlari kencang di antara semak-semak, menuju ke kota. Ia harus mencari tiga anak lain yang telah menjadi tua seperti dirinya.
Saat itu fajar telah menyingsing dan trem-trem mulai berjalan. Jimmy akhirnya melihat seorang kakek berjalan perlahan-lahan dengan keranjang besar. Jimmy berlari mendekatinya, dan bertanya ragu,
“Kek, apakah anda murid kelas tiga?”
Tetapi si kakek malah menghentakkan kakinya marah, karena merasa dihina. Jimmy manghindar dan berlari. Kini kota benar-benar ramai. Orang-orang pergi bekerja dengan terburu-buru. Truk-truk bergerak cepat membawa muatan ke toko-toko dan pabrik-pabrik. Penyapu-penyapu jalan membersihkan salju agar orang-orang tidak tergelincir. Jimmy melihat semuanya. Sekarang ia mengerti mengapa orang-orang takut terlambat dan ketinggalan.
Jimmy berjalan dan mencari kakek dan nenek, tetapi tidak seorangpun yang cocok. Ia melihat kakek-kakek yang sedang berlari, tetapi sepertinya bukan anak kelas tiga. Tepat pada siang hari, Jimmy pergi ke taman bunga dan duduk beristirahat. Tiba-tiba ia terkajut, karena tak jauh darinya ada seorang nenek yang menangis. Nenek itu lalu merogoh-rogoh sakunya yang ternyata berisi kismis. Tiba-tiba si nenek melihat sesuatu di salju. Ia membungkuk dan mengambil sebuah pedang mainan. Ia lalu berjalan mendekati pohon, dan bermain sembunyi-sembunyian.
Jimmy segera mandekatinya dan berteriak, “Nek! Apakah kamu murid sekolah?”
Si nenek meloncat senang, “Betul, betul! Saya murid kelas tiga. Nama saya Marsya. Dan kamu siapa?”
Jimmy menceritakan pada Marsya siapa dirinya. Mereka lalu bergandengan tangan dan berlari mencari teman-teman yang lain. Akhirnya mereka tiba di pekarangan rumah yang besar. Di situ ada seorang nenek-nenek yang sedang melompat-lompat. Jimmy dan Marsya segera manghampirinya,
“Nek, apakah anda murid sekolah?”
“Ya, saya Nadien, murid kelas tiga. Siapa kalian?”
Jimmy dan Marsya menceritakan padanya siapa mereka. Kini mereka bertiga bergandengan tangan mencari teman yang terakhir. Mereka mencari ke taman, ke teater anak-anak, perpustakaan anak-anak, tetapi ia tidak ditemukan. Waktu terus berjalan. Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu sudah menyala di rumah-rumah. Hari akan berakhir. Apa yang harus mereka lakukan? Tiba-tiba Marsya bertariak, “Lihat! Lihat!”
Jimmy dan Nadien menoleh, melihat ke trem yang bergerak cepat. Ada seorang kakek sedang bergantung dengan topi yang menutup sampai ke kuping. Ketiga anak itu segera berlari mengejar trem itu. Untunglah trem berhenti pada lampu di persimpangan jalan.
“Kamu murid sekolah?” tanya mereka.
“Ya, saya Zailul, saya murid kelas dua. Dan kalian siapa?”
Ketiga anak itu menceritakan siapa mereka sebenarnya. Dan agar tidak membuang waktu, mereka naik trem sampai ke pinggir hutan. Ketika berjalan di hutan, mereka sempat tersesat. Mereka meraba-raba dalam kegelapan. Di hutan, mereka tersesat. Akhirnya dengan perjuangan yang berat mereka berhasil menemukan rumah kecil itu. Mereka mengintip dengan hati-hati ke jendela.
Jam-jam bandul menunjukan pukul12 kurang 5 menit. Para penyihir tertidur pulas di rumput kering. Dengan hati-hati anak-anak itu membuka pintu dan mendekati jam-jam bandul. Tepat pukul 12 malam, Jimmy mulai memutar jarum jam mundur.
Penyihir-penyihir itu meloncat dan berteriak, tapi mereka tidak dapat bergerak. Rambut mereka mulai memutih dan wajah mereka berkerut. Pada putaran jarum jam yang ke 40, penyihir-penyihir itu mulai bungkuk dan semakin pendek. Dan pada putaran jam ke 77, mereka pun berteriak dan hilang lenyap seolah-olah tidak pernah ada.
Anak-anak saling memandang dan tertawa gembira. Mereka kembali menjadi anak-anak seperti semula. Mereka selamat! Dan mereka selalu ingat, bahwa orang yang membuang-buang waktu dengan sia-sia, tidak sadar kalau mereka telah menjadi tua.
Dikutip dari Kumpulan Dongeng Bobo 38
dengan pengubahan seperlunya
(Lukisan Penyelamat)


0 tanggapan:
Posting Komentar